Labuan Bajo, 14 Agustus 2026- Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF) memberikan apresiasi kepada tiga peserta terbaik atau Top 3 Floratama Academy 2026 sebagai bagian dari komitmen memperkuat kapasitas pelaku usaha pangan lokal sekaligus mendorong produk lokal masuk dan berkembang dalam rantai pasok industri pariwisata di Labuan Bajo Flores.
Apresiasi yang diberikan berupa Sertifikat Penghargaan sebagai TOP 3 Peserta Floratama Academy Tahun 2026 dan dukungan in-kind (dukungan berupa barang). Sertifikat kepada peserta Floratama Academy, diserahkan pada 10 Agustus 2026 oleh Menteri Pariwisata Republik Indonesia di Parapuar, Labuan Bajo Flores. Sementara bentuk dukungan in-kind diberikan pada Jumat (14/10/2026). Penghargaan diberikan kepada tiga peserta terbaik berdasarkan proses pengembangan usaha dan partisipasi dalam seluruh rangkaian program Floratama Academy 2026.

Floratama Academy 2026 merupakan program pelatihan peningkatan kapasitas pelaku usaha unggulan yang telah memasuki tahun keenam pelaksanaannya. Pada tahun ini, BPOLBF secara khusus memfokuskan program pada penguatan kapasitas pelaku usaha pangan lokal dengan mengusung tema “Penguatan Kapasitas Pelaku Usaha Pangan dalam Mewujudkan Rantai Pasok yang Tangguh serta Produk Pangan Berkualitas dan Berdaya Saing di Labuan Bajo.”
Program ini diarahkan untuk memperkuat kemampuan pelaku usaha pada aspek bisnis, produksi, kualitas produk, pemasaran, distribusi, akses pasar, hingga pembiayaan. Upaya tersebut sekaligus menjadi bagian dari strategi BPOLBF dalam memperkuat keterhubungan antara _supply side,_ yakni pelaku usaha dan produsen pangan lokal, dengan demand side, yaitu industri pariwisata, khususnya hotel, restoran, dan kafe (HORECA).
Pertumbuhan pariwisata di Labuan Bajo turut meningkatkan kebutuhan terhadap produk pangan yang berkualitas, aman, inovatif, berkelanjutan, dan tersedia secara konsisten. Di sisi lain, pelaku usaha pangan lokal masih menghadapi sejumlah tantangan, antara lain keterbatasan modal, akses pasar, kualitas produk, kapasitas produksi, serta kontinuitas pasokan.

Plt. Direktur Utama BPOLBF, Andhy MT Marpaung menyampaikan melalui Floratama Academy 2026, BPOLBF berupaya menjembatani tantangan tersebut dengan menghadirkan pembekalan dari berbagai pihak, mulai dari pakar, mentor, akademisi, perbankan, pelaku industri HORECA, hingga pemangku kepentingan terkait.
“Floratama Academy tidak hanya berbicara mengenai bagaimana meningkatkan kapasitas UMKM, tetapi juga bagaimana membangun ekosistem usaha yang menghubungkan produk pangan lokal dengan kebutuhan industri pariwisata. Dengan demikian, pelaku usaha tidak hanya mampu menghasilkan produk yang berkualitas, tetapi juga memiliki akses terhadap pasar yang lebih luas dan berkelanjutan,” ujar Andhy.
Dari 84 Peserta, Terpilih 19 Peserta untuk Pendampingan Intensif
Floratama Academy 2026 telah dimulai sejak Maret 2026. Sebanyak 84 peserta mengikuti Kick Off Floratama Academy pada 20 April 2026. Setelah melalui proses identifikasi, kurasi, dan pendampingan, sebanyak 19 peserta terpilih untuk mengikuti rangkaian mentoring, workshop, dan coaching yang berlangsung hingga Juni 2026.
Rangkaian program dilaksanakan secara kombinasi, baik secara daring melalui Zoom Meeting maupun secara luring di lingkungan BPOLBF dan Labuan Bajo. Tahapan program meliputi open call, kick off, identifikasi dan kurasi peserta, mentoring, workshop atau pitching, serta pengembangan jejaring dengan industri dan pasar.
Dalam sesi mentoring, peserta mendapatkan materi mengenai kebutuhan pangan di Labuan Bajo Flores, kewirausahaan dan pembangunan jejaring rantai pasok, akses pembiayaan dan pendanaan, peningkatan daya saing produk pangan lokal, sorting dan packaging, serta strategi pemasaran dan distribusi.
Sementara itu, workshop menjadi tahapan untuk menyempurnakan proposal bisnis sekaligus mengukur kelayakan usaha dan kemampuan peserta dalam mempresentasikan rencana pengembangan bisnisnya. Hasil proses tersebut menjadi salah satu dasar dalam menentukan dukungan pengembangan usaha bagi para peserta.
Tiga Usaha Pangan Lokal Terbaik
Berdasarkan seluruh rangkaian proses tersebut, BPOLBF menetapkan tiga peserta sebagai Top 3 Floratama Academy 2026 yaitu:
Top 1 – KomoJamur
KomoJamur merupakan usaha milik Septian Hutagalung yang bergerak pada budidaya dan pengolahan jamur tiram. Berlokasi di Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, KomoJamur memproduksi dan memasarkan jamur tiram segar serta berbagai produk olahan berbahan dasar jamur.
Usaha ini hadir untuk merespons kebutuhan masyarakat dan sektor pariwisata terhadap pangan yang sehat, segar, bergizi, serta ramah lingkungan.
Top 2 – D'SAWITRA
D'SAWITRA merupakan usaha milik Ida Ayu Putu Merlina Wiryani yang bergerak pada pengolahan pangan lokal, khususnya kue kering sehat.
D'SAWITRA mengolah bahan pangan lokal khas Manggarai, khususnya kacang tago, menjadi produk camilan modern dengan nilai jual yang lebih tinggi tanpa meninggalkan cita rasa lokal. Usaha ini juga turut mendorong pemanfaatan pangan lokal serta peningkatan nilai ekonomi bagi petani.
Top 3 – Kopi Bubuk Nuca Lale
Kopi Bubuk Nuca Lale merupakan UMKM milik Adrianus Jehabut yang bergerak di bidang pengolahan kopi lokal menjadi produk kopi bubuk.
Usaha ini menjadi salah satu representasi potensi komoditas lokal Flores yang dapat dikembangkan menjadi produk bernilai tambah sekaligus memiliki peluang untuk masuk dalam rantai pasok kebutuhan industri pariwisata.
Terus Dukung 16 Peserta Lainnya
BPOLBF menegaskan bahwa apresiasi Top 3 bukan menjadi akhir dari proses pengembangan peserta Floratama Academy 2026. Sebanyak 16 peserta lainnya tetap mendapatkan dukungan pengembangan usaha (in-kind) dari BPOLBF sebagai bagian dari komitmen untuk menjaga keberlanjutan proses pendampingan dan peningkatan kapasitas pelaku usaha pangan lokal.
Melalui program ini, BPOLBF berharap semakin banyak pelaku usaha pangan lokal yang mampu memenuhi kebutuhan industri pariwisata dari sisi kualitas, keamanan pangan, kapasitas produksi, kontinuitas pasokan, kemasan, serta daya saing produk.
“Ke depan, kami ingin semakin banyak produk pangan lokal yang tidak hanya hadir sebagai produk UMKM, tetapi mampu menjadi bagian dari rantai pasok pariwisata Labuan Bajo Flores. Karena itu, penguatan kapasitas, jejaring, kualitas, dan akses pasar akan terus menjadi perhatian dalam pengembangan pelaku usaha lokal,” tutup Plt. Direktur Utama BPOLBF.
———-
Sisilia Lenita Jemana
Kepala Divisi Komunikasi Publik
Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores