Labuan Bajo, 16 Juli 2026 – Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF) berkolaborasi dengan Program IN-FLORES menyelenggarakan Seminar Nasional Ekowisata Berkelanjutan di Ballroom Crowne Plaza Labuan Bajo, Kamis (16/7). Kegiatan ini menjadi wadah kolaborasi berbagai pemangku kepentingan dalam merumuskan arah pengembangan ekowisata yang berkualitas, berdaya saing, inklusif, dan berkelanjutan di Kabupaten Manggarai Barat.
Ekowisata merupakan salah satu pendekatan strategis dalam pengembangan pariwisata yang mengintegrasikan pelestarian lingkungan, pemberdayaan masyarakat, serta peningkatan kesejahteraan ekonomi lokal melalui pemanfaatan potensi alam dan budaya secara bertanggung jawab. Sebagai bagian dari implementasi pariwisata berkelanjutan, ekowisata tidak hanya menghadirkan pengalaman wisata yang berkualitas, tetapi juga mendukung konservasi keanekaragaman hayati, pelestarian budaya, serta memperkuat kapasitas masyarakat sebagai pelaku utama pembangunan pariwisata.
Kabupaten Manggarai Barat memiliki modal yang sangat kuat untuk mengembangkan ekowisata melalui kekayaan bentang alam, keanekaragaman hayati, ekosistem pesisir dan laut, serta warisan budaya yang tersebar di berbagai kawasan dan desa wisata. Tingginya minat wisatawan domestik maupun mancanegara menjadi peluang sekaligus tantangan untuk memastikan bahwa pengembangan destinasi tetap menjaga kelestarian lingkungan, memberikan manfaat yang adil bagi masyarakat lokal, serta meningkatkan daya saing pariwisata daerah.
Seminar nasional ini dibuka secara resmi oleh Sekretaris Daerah Kabupaten Manggarai Barat, Fransiskus Sales Sodo. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa penguatan kelembagaan sektor pariwisata di Kabupaten Manggarai Barat berjalan beriringan dengan transformasi digital.
"Penguatan kelembagaan pemerintah Kabupaten Manggarai Barat di bidang kepariwisataan kami iringi dengan transformasi digital. Destinasi berkelas dunia tidak bisa lagi dikelola dengan cara konvensional. Karena itu kami menghadirkan aplikasi Gendang Mabar sebagai single source of truth tata kelola pariwisata yang mengintegrasikan informasi destinasi, reservasi, hingga pembayaran daring dalam satu pintu layanan," ujarnya.
Sementara itu, Staf Ahli Menteri Bidang Pengembangan Berkelanjutan dan Konservasi Kementerian Pariwisata RI Periode 2020–2026, Frans Teguh, dalam keynote speech memaparkan arah kebijakan nasional pembangunan pariwisata berkelanjutan serta implementasinya di daerah.
"Setiap pilihan wisata yang kita ambil, mulai dari operator yang dipilih, kontribusi konservasi, hingga jejak karbon yang kita kurangi akan menentukan masa depan Labuan Bajo Flores sebagai destinasi yang tetap lestari, berdaya saing, dan menyejahterakan masyarakatnya," ungkap Frans Teguh.
Pada kesempatan yang sama, Plt. Direktur Utama BPOLBF, Andhy MT Marpaung, menyampaikan harapannya agar seminar ini mampu menghasilkan rekomendasi nyata dalam memperkuat ekowisata di Manggarai Barat.
"Semoga forum ini menghasilkan gagasan, rekomendasi, dan komitmen bersama yang dapat menjadi pijakan dalam memperkuat pengembangan ekowisata yang berkualitas, berdaya saing, inklusif, dan berkelanjutan di Kabupaten Manggarai Barat. Karena pada akhirnya, masa depan Labuan Bajo Flores bukan hanya tentang destinasi yang kita bangun, melainkan tentang warisan yang kita tinggalkan bagi generasi mendatang," ujar Andhy.
Seminar ini menghadirkan para pakar dan praktisi nasional yang membahas berbagai praktik terbaik, tantangan, serta rekomendasi kebijakan pengembangan ekowisata. Narasumber yang hadir yaitu Dr. Ir. Wiratno, M.Sc., IPU (Senior Expert in Forest Conservation & Resource Management), Prof. Dr. Ir. Ricky Avenzora, M.Sc.F.Trop (Guru Besar Manajemen Ekowisata IPB University), Petrus Antonius Rasyid (Kepala Dinas Pariwisata, Ekonomi Kreatif, dan Kebudayaan Kabupaten Manggarai Barat), Drs. Ary Sendjaja Suhandi, M.Par. (Direktur Indonesian Ecotourism Network), Mochamad Nalendra, S.E., MISTM., CPM (ASIA) (Direktur Wise Step Consulting), serta Rahmi Fajar Harini, M.Si. (Co-Founder Eco Tourism Bali).
Diskusi dipandu oleh dua moderator, yakni Prof. Diena M. Lemy, Guru Besar Ilmu Manajemen Jasa Kepariwisataan Universitas Pelita Harapan (UPH), dan Septian Hutagalung, dosen Politeknik eL Bajo Commodus. Secara umum, para narasumber menekankan pentingnya kolaborasi multipihak, penguatan tata kelola destinasi, peningkatan kapasitas masyarakat, serta penerapan kebijakan berbasis konservasi sebagai fondasi pengembangan ekowisata di Manggarai Barat.
Menutup rangkaian kegiatan, Kepala Balai Taman Nasional Komodo, Hendrikus Rani Siga, menegaskan bahwa seminar ini merupakan bagian penting dalam strategi mewujudkan pariwisata berkualitas di Manggarai Barat.
"Seminar ini menjadi bagian penting dari tahapan dalam mewujudkan pariwisata Manggarai Barat yang lebih berkualitas. Pengembangan konservasi dan kepariwisataan membutuhkan dukungan seluruh pihak agar ekowisata yang berkualitas benar-benar dapat diwujudkan." tutupnya.
Ia juga mengingatkan bahwa keberhasilan ekowisata tidak hanya diukur dari tingginya jumlah kunjungan wisatawan, tetapi dari kemampuan seluruh pemangku kepentingan menjaga keseimbangan antara konservasi, manfaat bagi masyarakat, dan kualitas pengalaman wisata.
Melalui penyelenggaraan Seminar Nasional Ekowisata Berkelanjutan ini, BPOLBF bersama IN-FLORES berharap dapat memperkuat sinergi antara pemerintah, akademisi, pelaku usaha, komunitas, dan lembaga konservasi dalam mewujudkan Manggarai Barat sebagai destinasi ekowisata unggulan yang berdaya saing global, sekaligus tetap menjaga kelestarian alam dan budaya bagi generasi mendatang.
Tentang Proyek IN-FLORES
Proyek Investing in the Komodo Dragon and Other Globally Threatened Species in Flores (IN-FLORES) sendiri merupakan inisiatif konservasi yang didukung oleh Kementerian Kehutanan (Kemenhut), Global Environment Facility (GEF), dan UNDP Indonesia. Proyek ini bertujuan untuk melindungi spesies ikonik seperti komodo (Varanus komodoensis), kakatua kecil jambul kuning (Cacatua sulphurea), dan elang flores (Nisaetus floris), serta memastikan pengelolaan ekosistem yang berkelanjutan di Taman Nasional Komodo dan wilayah sekitarnya. Proyek ini mencakup berbagai aspek konservasi, termasuk penguatan tata kelola kawasan, perlindungan keanekaragaman hayati, serta pengembangan ekowisata berbasis masyarakat.
Seminar ini juga menghasilkan usulan Policy Brief yang berisi 7 Statement, antara lain:
1) Menata paradigma dan arah pembangunan ekowisata Manggarai Barat, 2) Menetapkan pariwisata berkelanjutan sebagai fondasi utama, 3) Memperkuat tata kelola kolaboratif melalui konsolidasi dan forum ekowisata, 4) Menjadikan masyarakat sebagai pelaku utama melalui pendidikan, pemberdayaan, dan strategic communal bussines, 5) Menegaskan kepastian ruang dan penglolaan lanskap yang adaptif dan berbasis fungsi ekologis, 6) Menyusun grand design Ekowisata Jangka Panjang yang adaptif dan berbasis data, dan 7) Menyusun Policy Brief Ekowisata Manggarai Barat 2025-2030 sebagai dokumen rujukan bersama.
------
Sisilia Lenita Jemana
Kepala Divisi Komunikasi Publik
Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores