Labuan Bajo, 23 Juni 2026 — Program Floratama Academy 2026 Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF) telah memasuki tahapan mentoring. Tahap mentoring hari pertama yang berlangsung pada Selasa (23/06/2026) ini dilaksanakan secara hybrid dengan mengusung tema “Penguatan Kapasitas Pelaku Usaha Pangan dalam Mewujudkan Rantai Pasok yang Tangguh serta Produk Pangan Berkualitas dan Berdaya Saing di Labuan Bajo.”
Sebelumnya, Floratama Academy 2026 telah diawali dengan kegiatan Kick Off pada 20 April 2026 lalu sebagai momentum membangun komitmen bersama serta mempertemukan para pemangku kepentingan dalam ekosistem pangan dan pariwisata. Memasuki tahap mentoring, kegiatan ini menjadi ruang penguatan kapasitas dan pendampingan yang lebih mendalam bagi para pelaku usaha pangan lokal agar mampu beradaptasi dengan kebutuhan industri pariwisata di Labuan Bajo Flores.

Plt. Direktur Utama BPOLBF, Andhy MT Marpaung, menyampaikan bahwa pertumbuhan Labuan Bajo sebagai salah satu Destinasi Pariwisata Prioritas Nasional membawa peluang ekonomi yang besar, khususnya bagi pelaku usaha pangan lokal.
“Sebagai salah satu destinasi pariwisata prioritas nasional, Labuan Bajo terus mengalami pertumbuhan yang berdampak pada meningkatnya kebutuhan pangan. Kondisi ini menghadirkan peluang ekonomi yang besar bagi pelaku usaha lokal, namun juga menuntut kesiapan dari sisi kualitas produk, kontinuitas pasokan, standar keamanan pangan, pengemasan, hingga kemampuan distribusi dan pemasaran,” ujar Andhy.
Menurutnya, tahap mentoring Floratama Academy dirancang agar para peserta tidak hanya memahami peluang pasar, tetapi juga mampu mempersiapkan diri menjadi bagian dari rantai pasok pangan yang berkelanjutan.
“Melalui proses pendampingan ini, para pelaku usaha diharapkan mampu memperkuat kapasitas usaha, meningkatkan kualitas produk, serta membangun jejaring dengan industri pariwisata sehingga tercipta ekosistem pangan lokal yang lebih tangguh di Labuan Bajo Flores,” tambahnya.
Pada hari pertama mentoring, peserta mendapatkan materi Overview Kebutuhan Pangan di Labuan Bajo Flores yang disampaikan oleh General Manager Luwansa Beach Resort Labuan Bajo bersama Kepala SPPG Batu Cermin. Sesi ini memberikan gambaran mengenai kebutuhan pangan riil yang dibutuhkan oleh sektor industri pariwisata serta layanan pemenuhan gizi di Labuan Bajo.

Selanjutnya, peserta memperoleh materi Entrepreneurship dan Membangun Jaringan dalam Rantai Pasok Usaha Pangan dalam Industri Pariwisata yang disampaikan oleh Sekretaris Dinas Pariwisata, Ekonomi Kreatif, dan Kebudayaan Kabupaten Manggarai Barat, Chrispin Mesima. Dalam kesempatan tersebut, Chrispin Mesima menyampaikan bahwa perkembangan Labuan Bajo yang semakin pesat perlu diiringi dengan penguatan keterlibatan masyarakat lokal, khususnya pelaku UMKM pangan.
Menurutnya, salah satu strategi penting adalah memperkuat hubungan antara UMKM pangan lokal dengan industri pariwisata melalui berbagai skema kolaborasi, seperti program kemitraan hotel dan resort dengan kelompok tani maupun nelayan lokal, penerapan skema penggunaan produk lokal pada hotel, restoran, dan kapal wisata, serta pengembangan festival kuliner dan pasar UMKM sebagai etalase produk pangan daerah. Selain itu, pendampingan terhadap standar mutu produk menjadi aspek penting agar produk pangan lokal mampu memenuhi kebutuhan industri perhotelan dan memiliki daya saing yang lebih tinggi.
“Labuan Bajo sampai dengan hari ini berkembang dengan sangat pesat. Perkembangan ini harus menjadi peluang bagi masyarakat lokal untuk mengambil peran lebih besar dalam rantai ekonomi pariwisata, salah satunya melalui penguatan UMKM pangan lokal yang terhubung dengan industri pariwisata,” jelas Chrispin.
Pada sesi berikutnya, peserta mendapatkan materi Akses Pembiayaan/Pendanaan yang disampaikan oleh Perwakilan Otoritas Jasa Keuangan Provinsi Nusa Tenggara Timur dan Kepala Divisi Penyaluran Pembiayaan II Pusat Investasi Pemerintah. Materi ini bertujuan memberikan pemahaman kepada pelaku usaha mengenai alternatif pembiayaan yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung pengembangan dan keberlanjutan usaha.
Sementara itu, Asisten Deputi Sistem Distribusi Pangan Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Muhamad Mawardi, menegaskan bahwa tantangan utama Kabupaten Manggarai Barat bukan hanya meningkatkan produksi pangan, tetapi membangun rantai pasok yang lebih terintegrasi dan bernilai tinggi.
“Tantangan utama Kabupaten Manggarai Barat bukan pada menghasilkan lebih banyak pangan, tetapi bagaimana membangun rantai pasok pangan yang lebih terintegrasi dan bernilai tinggi. Labuan Bajo memiliki peluang besar menjadi showcase nasional pengembangan ekosistem pangan lokal yang mengintegrasikan pertanian, entrepreneurship, logistik, dan kepariwisataan,” ungkap Muhamad Mawardi.
Tahap mentoring Floratama Academy akan berlangsung selama dua hari dengan fokus pada peningkatan kapasitas pelaku usaha pangan lokal. Pada hari kedua, pembelajaran akan diarahkan pada peningkatan kualitas, penguatan produk, serta strategi agar produk pangan lokal semakin berkualitas, berdaya saing, dan mampu masuk dalam rantai pasok industri pariwisata Labuan Bajo Flores. Tahap mentoring ini dikuti oleh 60 perserta yang telah mendaftar.
-----
Sisilia Lenita Jemana
Kepala Divisi Komunikasi Publik
Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores