Labuan Bajo, 30 Maret 2026- Kolaborasi antar pemangku kepentingan dalam mendorong penguatan wisata darat dan budaya Labuan Bajo mengemuka dalam talkshow “Sunset Talks: Dari Labuan Bajo untuk Dunia” yang diselenggarakan oleh RRI Labuan Bajo di Mawatu Labuan Bajo pada Minggu (29/03/2026) sore. Kegiatan ini menghadirkan berbagai pihak, seperti Sekretaris Daerah Kabupaten Manggarai Barat, Fransiskus Sales Sodo; Plt. Dirut Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF), Andhy MT Marpaung; Influencer NTT, Suci Maria; Ketua Komunitas Stand Up Indo Labuan Bajo, Koko Ama; dan Owner Chomabee UMKM Kreatif, Rino, sebagai bagian dari upaya bersama dalam mengembangkan Labuan Bajo sebagai destinasi pariwisata berkelas dunia.

Sejalan dengan upaya penguatan wisata darat, Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Manggarai Barat, Fransiskus Sales Sodo, menyampaikan bahwa kunjungan wisatawan di Labuan Bajo hingga saat ini masih didominasi oleh wisata bahari. Oleh karena itu, diperlukan penguatan kebijakan guna mendorong wisatawan untuk juga menjelajahi wilayah daratan (mainland), dengan dukungan penerapan carrying capacity serta penataan yang lebih optimal.
“Hampir 78% kunjungan wisatawan kita didominasi oleh wisatawan asing, sementara wisatawan domestik sekitar 22%, dengan sekitar 90% aktivitas wisata masih terfokus pada laut atau bahari. Sementara itu, kunjungan ke wilayah daratan (mainland) masih relatif sedikit. Oleh karena itu, kebijakan yang didorong tidak hanya berfokus pada wisata bahari, namun juga penguatan wisata darat. Dengan itu pemerintah daerah mendukung kebijakan Taman Nasional Komodo terkait carrying capacity, sehingga wisatawan tidak hanya terpusat di laut, tetapi juga terdorong untuk menjelajahi wilayah daratan, termasuk potensi wisata budaya, seni, serta produk lokal masyarakat. Saya pikir ini hal-hal yang perlu kita konsolidasi secara lebih kuat lagi dalam hal menyusun kerangka kebijakan yang eksisten untuk TNK dan sekitarnya,” jelas Fransiskus.

Dalam kesempatan yang sama, Plt Direktur Utama BPOLBF, Andhy MT Marpaung, menanggapi tren kunjungan wisatawan di Labuan Bajo yang didominasi pola perjalanan singkat (one day tour) dan berfokus pada wisata bahari. Ia menyampaikan bahwa BPOLBF mendorong penguatan dan diversifikasi produk wisata, khususnya desa wisata, melalui berbagai program termasuk Weekend at Parapuar yang menghadirkan pertunjukan seni dan budaya.
“Tren one day tour di Labuan Bajo saat ini semakin meningkat seiring kemudahan akses transportasi laut, khususnya speedboat. Pola perjalanan ini membuat wisatawan cenderung hanya mengunjungi destinasi utama seperti Pulau Padar, Komodo, dan Pink Beach dalam waktu singkat tanpa mengeksplorasi lebih jauh. Oleh karena itu, kami mendorong penguatan dan diversifikasi produk wisata, tidak hanya berfokus pada wisata bahari, tetapi juga mengembangkan wisata budaya dan wisata darat. Upaya ini dilakukan agar wisatawan dapat tinggal lebih lama sekaligus mengenal kekayaan kearifan lokal di Manggarai Barat. Langkah ini kami lakukan melalui berbagai program, seperti pengembangan desa wisata dengan menghadirkan local champions di setiap desa melalui program Floratama Academy, serta penguatan peran sanggar seni sebagai penyedia atraksi budaya. Selain itu, juga melalui event seperti Weekend at Parapuar yang hadir setiap akhir pekan di Parapuar sebagai wadah bagi para pelaku budaya untuk tampil dan berkembang,” ungkap Andhy.
Melengkapi perspektif dari pemerintah dan pelaku industri, pentingnya penguatan narasi pariwisata juga datang dari sudut pandang kreator konten yang berperan dalam membentuk persepsi publik terhadap Labuan Bajo. Influencer asal Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur, Suci Maria, turut memberikan pandangannya terkait arah promosi pariwisata Labuan Bajo ke depan. Ia menekankan pentingnya memperluas narasi promosi, tidak hanya berfokus pada keindahan alam semata, tetapi juga mengangkat nilai budaya yang menjadi identitas daerah.
“Saat ini banyak yang mempromosikan Labuan Bajo, tetapi kemudian hanya stuck pada keindahan Labuan Bajo itu sendiri. Yang mana menurut saya, sebaiknya level kita tidak lagi hanya fokus pada konten promosi pada keindahan Labuan Bajo saja, karena kalau kita terus menitikberatkan keindahan tersebut, saya rasa di Labuan Bajo maupun NTT ini sudah banyak tempat-tempat yang tidak kalah bagus. Maka juga fokus pada nilai budaya, sehingga makna dari konten tersebut tidak hanya keindahan saja” kata Suci.
Melalui diskusi ini, diharapkan terbangun kolaborasi yang semakin kuat antara pemerintah, pelaku industri, dan masyarakat dalam mendorong pariwisata yang berkelanjutan dan berbasis kearifan lokal.
-------
Sisilia Lenita Jemana
Kepala Divisi Komunikasi Publik
Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores