Labuan Bajo, 3 Juni 2026 - Dalam rangka mendukung pengembangan pariwisata berkualitas dan berkelanjutan di Destinasi Pariwisata Prioritas Labuan Bajo, Kementerian Pariwisata melalui Asisten Deputi Peningkatan Kapasitas Masyarakat, Deputi Bidang Sumber Daya dan Kelembagaan, menggelar Pelatihan Storytelling bagi pelaku pariwisata dan masyarakat di Kabupaten Manggarai Barat. Kegiatan ini berlangsung selama dua hari, 3-4 Juni 2026 di Aula Paroki Gereja Katolik Merombok, Desa Golo Bilas, Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat.

Kegiatan ini diikuti sekitar 50 peserta yang terdiri atas pengelola desa wisata, pelaku UMKM, pengelola destinasi wisata, serta pemandu wisata ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas pelaku pariwisata dalam mengemas potensi alam, budaya, dan kearifan lokal menjadi narasi yang menarik, autentik, dan berkesan, sehingga mampu meningkatkan kualitas pengalaman wisatawan di Labuan Bajo sebagai kawasan ekowisata nasional.
Kegiatan dibuka secara resmi oleh Ika Kusuma Permana Sari, Asisten Deputi Peningkatan Kapasitas Masyarakat, Deputi Bidang Sumber Daya dan Kelembagaan Kementerian Pariwisata, yang sekaligus menyampaikan sambutan. Dalam sambutannya, Ia berharap pelatihan ini dapat menjadi upaya strategis dalam meningkatkan kapasitas pelaku pariwisata, khususnya dalam mengemas dan menyampaikan potensi destinasi secara lebih efektif.
“Melalui pelatihan ini, kemenpar berharap para peserta mampu menggali, menyusun, menyampaikan cerita yang lebih baik kepada wisatawan, dapat mendukung pengembangan wisata daerah serta memperkuat posisi Labuan Bajo sebagai destinasi wisata yang berkualitas dan berkelanjutan. Dan pelatihan storytelling ini menjadi salah satu elemen utama untuk perkembangan pariwisata karena wisatawan tidak hanya mencari tempat yang indah tapi juga perlu memahami cerita, budaya, nilai dan karakter khas dari destinasi wisata,” Ungkap Ika.
Ia juga menambahkan bahwa perkembangan pariwisata di Labuan Bajo terus bergerak ke arah yang lebih beragam dan bernilai tambah, tidak hanya berfokus pada wisata bahari dan kawasan Taman Nasional, namun juga mencakup potensi desa wisata, budaya, serta produk ekonomi kreatif. Oleh karena itu, sinergi dan kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, BPOLBF, serta seluruh pelaku pariwisata perlu terus diperkuat agar mampu memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat. Selain itu, ia juga mendorong pemerintah daerah untuk mengidentifikasi kebutuhan pelatihan yang tepat guna meningkatkan kapasitas masyarakat, khususnya di destinasi pariwisata Labuan Bajo.
Senada, Petrus Antonius Rasyid, Kepala Dinas Pariwisata, Ekonomi Kreatif, & Kebudayaan Kabupaten Manggarai Barat dalam sambutannya menekankan pentingnya peningkatan kualitas pengalaman wisata serta penguatan kolaborasi antar pemangku kepentingan dalam pengembangan pariwisata daerah.
“Teknologi mungkin dapat membantu mendatangkan wisatawan, tetapi pengalaman berwisatalah yang membuat mereka ingin kembali. Karena itu, kemampuan storytelling menjadi salah satu aspek sederhana namun memiliki dampak besar dalam pengembangan pariwisata. Kami berharap para peserta dapat memanfaatkan pelatihan ini sebaik mungkin untuk belajar, memperkaya keterampilan, dan mengembangkan kapasitas diri dalam menghadirkan pengalaman wisata yang berkesan. Ke depan, mari terus bergandengan tangan dan memperkuat kolaborasi agar pariwisata Manggarai Barat semakin berkembang, berdaya saing, dan dikenal sebagai destinasi yang ramah, autentik, dan berkelanjutan,” kata Petrus.
Pelatihan ini menjadi bagian dari upaya bersama dalam memperkuat kualitas sumber daya manusia pariwisata di Manggarai Barat, khususnya dalam menghadapi tren pariwisata yang semakin menekankan pada pengalaman dan nilai tambah. Melalui pendekatan yang aplikatif dan kolaboratif, kegiatan ini diharapkan mampu mendorong pelaku pariwisata untuk lebih adaptif dalam mengemas potensi lokal serta meningkatkan daya saing destinasi secara berkelanjutan.

Andhy MT Marpaung, Plt. Direktur Utama BPOLBF, menegaskan bahwa penguatan kapasitas masyarakat dalam membangun narasi destinasi merupakan bagian penting dari upaya mewujudkan pariwisata yang berkualitas, inklusif, dan berkelanjutan.
“Pariwisata saat ini tidak lagi hanya menjual keindahan alam, tetapi juga menghadirkan pengalaman yang bermakna melalui cerita, budaya, dan kehidupan masyarakatnya. Karena itu, kemampuan storytelling menjadi sangat penting untuk mengemas potensi alam, budaya, tradisi, kuliner, serta kearifan lokal menjadi narasi yang autentik dan berdaya tarik tinggi. Melalui pelatihan ini, kami berharap masyarakat semakin mampu menjadi duta destinasi yang menceritakan identitas daerahnya dengan bangga, sekaligus menjadi pelaku utama yang memperoleh manfaat ekonomi, sosial, dan keberlanjutan dari sektor pariwisata. Kekayaan Manggarai Barat tidak hanya terletak pada keindahan alamnya, tetapi juga pada cerita dan nilai-nilai yang hidup di tengah masyarakatnya,” ujar Andhy.
Hari pertama pelatihan diisi dengan pemaparan materi oleh Akbar Waskito Soep dari Yogyakarta Tourism Training Center (JTTC). Materi yang disampaikan mencakup Dasar-dasar Storytelling (Daya Tarik Wisata & Produk Wisata), Teknik & Struktur Narasi Wisata Efektif, Storytelling untuk Branding & Media Digital. Selain itu, peserta juga mendapatkan kesempatan untuk mempraktikkan penyusunan storytelling di era digital, yang dilengkapi dengan simulasi lapangan dan evaluasi akhir sebagai bentuk penguatan pemahaman.
---------
Sisilia Lenita Jemana
Kepala Divisi Komunikasi Publik
Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores