Merawat Harmoni dan Keberagaman dslam Prosesi Maria Assumpta Nusantara

Created at 2026-08-15

Labuan Bajo, 15 Agustus 2026 – Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF) mengambil bagian dalam Prosesi Maria Assumpta Nusantara yang menjadi salah satu agenda utama Festival Golo Koe 2026 di Labuan Bajo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, Jumat (14/8/2026). Keterlibatan BPOLBF dalam rangkaian kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya memperkuat kolaborasi dalam pengembangan pariwisata Labuan Bajo yang berbasis pada kekayaan budaya, kehidupan masyarakat, harmoni sosial, serta keberlanjutan lingkungan.

Prosesi Maria Assumpta Nusantara tidak hanya menjadi bagian dari perayaan keagamaan, tetapi juga menghadirkan ruang perjumpaan masyarakat dari berbagai latar belakang budaya dan etnis. Semangat tersebut sejalan dengan pengembangan Labuan Bajo sebagai destinasi yang tidak hanya menawarkan keindahan alam, tetapi juga pengalaman budaya dan kehidupan masyarakat yang menjadi bagian dari identitas Flores.

Mengusung tema “Ziarah Komunal dalam Persekutuan Sinergis untuk Merawat Keutuhan Ciptaan”, prosesi berlangsung melalui jalur laut dan darat. Rangkaian kegiatan ini memperlihatkan bagaimana nilai spiritualitas, budaya, kebersamaan, dan kepedulian terhadap lingkungan dapat berjalan beriringan dalam sebuah kegiatan yang melibatkan berbagai unsur masyarakat.

Prosesi dimulai pukul 15.30 WITA dari Kapela Stella Maris. Rombongan kemudian melanjutkan perjalanan melalui jalur laut dengan melibatkan 12 kapal pinisi dan puluhan kapal motor ketinting, sebelum diteruskan melalui prosesi darat melewati Jalan Soekarno-Hatta hingga menuju Gua Maria Bukit Golo Koe untuk ibadat penutup pada malam hari.

Keberagaman masyarakat menjadi salah satu wajah utama dalam prosesi tersebut. Masyarakat dari berbagai latar belakang etnis turut mengambil bagian dalam penyambutan dan pengiringan Patung Bunda Maria. Etnis Lamaholot mengawali prosesi di wilayah Kampung Ujung, sementara masyarakat Ngada-Bajawa menyambut kedatangan rombongan di Waterfront City Marina Labuan Bajo dengan Tarian Ja’i.

Plt. Direktur Utama Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF), Andhy MT Marpaung, menyampaikan bahwa keterlibatan berbagai pihak dalam Festival Golo Koe menunjukkan pentingnya kolaborasi dalam membangun destinasi pariwisata yang memiliki karakter kuat dan berakar pada kehidupan masyarakat.

”Prosesi Maria Assumpta Nusantara menunjukkan bahwa Labuan Bajo memiliki kekayaan yang jauh lebih besar dari sekadar panorama alam. Ada budaya, tradisi, spiritualitas, serta semangat gotong royong masyarakat yang menjadi bagian penting dari identitas destinasi. Bagi kami, nilai-nilai ini merupakan kekuatan yang perlu terus dirawat dan dikembangkan melalui kolaborasi, sehingga pariwisata dapat tumbuh dengan tetap menghargai masyarakat, budaya, dan lingkungan,” ujar Andhy.

Menurut Andhy, event seperti Festival Golo Koe memiliki arti penting dalam memperkuat pengalaman wisata berbasis budaya dan masyarakat. Ketika masyarakat menjadi bagian aktif dalam sebuah kegiatan, maka event tidak hanya menjadi agenda seremonial, tetapi juga dapat menjadi ruang untuk memperkenalkan nilai, tradisi, serta karakter lokal kepada masyarakat yang lebih luas.

“Pengembangan destinasi tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja. Pemerintah, masyarakat, komunitas, pelaku pariwisata, tokoh agama, dan seluruh pemangku kepentingan perlu bergerak bersama. Festival Golo Koe memperlihatkan bagaimana kolaborasi tersebut dapat menghadirkan sebuah perayaan yang memiliki nilai spiritual sekaligus memperkuat identitas Labuan Bajo sebagai destinasi,” lanjutnya.

Sementara itu, Ketua Umum Festival Golo Koe, RD Yohanes Fakundo Selman, menjelaskan bahwa ziarah yang dilakukan di laut menggunakan kapal pinisi dan di darat melewati tujuh stasi merupakan pesan untuk menjaga keutuhan alam Labuan Bajo. Keterlibatan aktif masyarakat lokal, pemerintah, dan berbagai komunitas dalam prosesi ini bertujuan agar pariwisata Labuan Bajo tumbuh berakar pada kearifan lokal dan tetap lestari bagi generasi mendatang.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa dalam tradisi iman Katolik, ziarah ke Gua Maria bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan praktik iman untuk merenungkan hidup manusia sebagai sebuah perziarahan menuju Sang Khalik sebagai tujuan akhir. Dalam peziarahan ini, Bunda Maria diangkat sebagai teladan kesetiaan yang membawa pengharapan dan sukacita bagi mereka yang bergumul dalam tantangan hidup. Melalui prosesi ini, umat diajak untuk “melangkah bersama” dalam persaudaraan sinodal yang inklusif.

Bagi pengembangan pariwisata Labuan Bajo, rangkaian Festival Golo Koe juga menjadi momentum untuk memperkuat posisi destinasi sebagai ruang perjumpaan berbagai budaya. Keterlibatan masyarakat dari beragam etnis dalam prosesi menunjukkan bahwa keberagaman bukan hanya menjadi bagian dari kehidupan sosial masyarakat, tetapi juga merupakan kekuatan budaya yang dapat memperkaya pengalaman wisatawan sekaligus memperkuat identitas destinasi.

Melalui keterlibatannya dalam rangkaian Festival Golo Koe, BPOLBF terus mendorong penguatan kolaborasi dalam pengembangan destinasi Labuan Bajo Flores, khususnya melalui pendekatan pariwisata yang menempatkan masyarakat, budaya, dan kelestarian lingkungan sebagai bagian penting dari pertumbuhan destinasi.

Festival Golo Koe 2026 sendiri telah masuk dalam Top 10 Kharisma Event Nusantara (KEN) dan akan mencapai puncaknya pada Sabtu, 15 Agustus 2026 melalui Perayaan Ekaristi Akbar Maria Assumpta yang berlangsung di Waterfront City Labuan Bajo.

Melalui semangat “Melangkah Bersama, Pulihkan Bumi,” Festival Golo Koe 2026 diharapkan tidak hanya menjadi perayaan keagamaan dan budaya, tetapi juga menjadi momentum untuk memperkuat kolaborasi seluruh pihak dalam menjaga lingkungan, melestarikan budaya, memperkuat peran masyarakat, serta memastikan pariwisata Labuan Bajo terus memberikan manfaat bagi masyarakat dan generasi mendatang.

———
Sisilia Lenita Jemana
Kepala Divisi Komunikasi Publik
Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores

thumbnail

Gerak Cepat Pemkab Manggarai Barat Salurkan Bantuan bagi Masyarakat Terdampak Gempa

Manggarai Barat, 17 Agustus 2026 — Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat menginisiasi gerak cepat penyaluran bantuan kemanusiaan bagi masyarakat terdampak gempa bumi di Kabupaten M...

thumbnail

Pariwisata Labuan Bajo Kembali Berjalan Normal, BPOLBF Lanjutkan Pendataan Dampak Gempa di Floratama

Labuan Bajo, 17 Agustus 2026 -  Kementerian Pariwisata RI bersama Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF) memastikan aktivitas pariwisata di Labuan Bajo kembali berjal...

thumbnail

Merawat Harmoni dan Keberagaman dslam Prosesi Maria Assumpta Nusantara

Labuan Bajo, 15 Agustus 2026 – Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF) mengambil bagian dalam Prosesi Maria Assumpta Nusantara yang menjadi salah satu agenda utama Fes...

Ada pertanyaan ?

Lihat FAQ ? atau Hubungi Kami