Camino de Flores Tutup Perjalanan Ziarah 70 Kilometer, Tinggalkan Jejak Kepedulian bagi Flores

Created at 2026-10-27

Ende, 27 Oktober 2026 – Rangkaian perjalanan ziarah berjalan kaki Camino de Flores Etape Tengah, yang melintasi wilayah Ngada, Nagekeo, dan Ende, resmi berakhir pada Senin (26/10/2026). Memasuki hari keempat sekaligus hari terakhir ini, para peserta melanjutkan perjalanan menuju Puncak Danau Kelimutu dan melanjutkan perjalanan ke Desa Wisata Waturaka, Kabupaten Ende, dengan jarak tempuh sekitar 13 kilometer.

Kunjungan ke Desa Wisata Waturaka menjadi titik akhir perjalanan ziarah berjalan kaki dalam rangkaian Camino de Flores. Setelah menempuh perjalanan lintas wilayah Flores, para peserta tidak hanya menyelesaikan tantangan berjalan kaki sejauh kurang lebih 70 kilometer, tetapi juga memperoleh kesempatan untuk berinteraksi langsung dengan masyarakat, mengenal kehidupan lokal, serta menyaksikan keindahan alam dan kekayaan budaya Flores dari dekat.

Pada sore hingga malam hari, rombongan melanjutkan agenda dengan mengunjungi Serambi Soekarno di Biara Santo Yosef, Ende. Situs bersejarah ini menjadi bagian penting dari perjalanan pengasingan Bung Karno di Ende pada 1934–1938, ketika ia membaca, berdiskusi, dan bertukar gagasan dengan para biarawan. Kunjungan tersebut menghadirkan dimensi sejarah dan refleksi kebangsaan dalam perjalanan yang memadukan spiritualitas, budaya, dan pengalaman wisata di Pulau Flores.

Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan Misa Penutupan Camino de Flores yang dipimpin langsung oleh Uskup Agung Ende, Mgr. Paulus Budi Kleden, di Gereja Katedral Kristus Raja, Ende. Usai misa, para peserta mengikuti ramah tamah dan makan malam bersama di Rumah Kevikepan Ende, sekaligus menjadi momentum refleksi atas perjalanan yang telah dilalui dan ungkapan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung penyelenggaraan kegiatan.

Dalam sambutannya, Uskup Agung Ende menyampaikan apresiasi kepada Mari Elka Pangestu yang menginisiasi Camino de Flores dalam rangka merayakan ulang tahunnya yang ke-70. Ia berharap perjalanan ziarah tersebut membawa berkat bagi Mari Elka Pangestu dan keluarga, para peziarah, serta masyarakat Flores.

”Atas nama pastor paroki dan umat Paroki Katedral, saya menyampaikan terima kasih atas bantuan yang diberikan. Semoga perayaan 70 tahun kehidupan Ibu dan Camino de Flores yang diinisiasi ini sungguh diberkati oleh Tuhan dan membawa kebaikan yang berlipat ganda pada tahun-tahun mendatang,” ungkapnya.

Pada kesempatan yang sama, Gubernur Nusa Tenggara Timur, Emanuel Melkiades Laka Lena, mengapresiasi penyelenggaraan Camino de Flores yang dinilainya berpotensi menjadi salah satu ikon pariwisata religi di Nusa Tenggara Timur, khususnya di Pulau Flores. Ia berharap kegiatan ini dapat dilanjutkan pada tahun-tahun mendatang melalui kolaborasi pemerintah, gereja, pelaku pariwisata, dan berbagai pihak terkait.

“Beberapa waktu lalu, kegiatan ini diluncurkan di Kementerian Pariwisata dan mendapat perhatian sebagai salah satu program percontohan untuk pengembangan wisata religi di Tanah Air. Kami berharap Camino de Flores dapat terus diselenggarakan dan berkembang menjadi salah satu kekhasan pariwisata Nusa Tenggara Timur, khususnya Flores,” ujar Melkiades.

Ia juga menyampaikan terima kasih kepada Mari Elka Pangestu, seluruh peserta, panitia, dan pihak-pihak yang telah berkontribusi dalam menyukseskan kegiatan tersebut. Menurutnya, kehadiran para peserta dari berbagai latar belakang merupakan kesempatan berharga untuk memperkenalkan potensi Flores sekaligus membangun jejaring yang dapat memberikan manfaat bagi masyarakat setempat.

Sementara itu, Mari Elka Pangestu menyampaikan rasa syukur karena dapat menuntaskan perjalanan berjalan kaki sejauh kurang lebih 70 kilometer dalam rangka perayaan ulang tahunnya yang ke-70. Baginya, perjalanan tersebut bukan semata-mata tentang mencapai jarak yang telah ditetapkan, melainkan tentang keteguhan, kebersamaan, dan kepedulian terhadap masyarakat Flores.

“Yang penting bukan siapa yang paling cepat menyelesaikannya, tetapi bahwa kita bisa menyelesaikan perjalanan ini dengan tekad kita. Perjalanan ini juga bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi untuk menggalang dukungan bagi Flores, termasuk dalam upaya pemulihan pascagempa,” ujar Mari Elka.

Ia mengungkapkan bahwa salah satu pengalaman paling berkesan selama perjalanan adalah kesempatan bertemu dan berbincang langsung dengan masyarakat di sepanjang rute. Sambutan hangat warga, termasuk para petani dan anak-anak yang ditemui selama perjalanan, memperlihatkan kekuatan masyarakat Flores dalam menghadapi tantangan sekaligus mempertahankan keramahan dan semangat hidup.

“Kalau kita berjalan menggunakan mobil atau pesawat, kita tidak akan bertemu masyarakat sepanjang jalan. Bagi saya, itulah yang paling berkesan, bertemu dan berbicara dengan masyarakat Flores. Kami disambut dengan sangat ramah. Hati kami, kami tinggalkan di Flores,” tambahnya.

Dukungan bagi Pelestarian Rumah Tenun dan Rumah Adat

Sebagai bagian dari rangkaian penutupan Camino de Flores, Mari Elka Pangestu bersama arsitek Yori Antar turut memberikan bantuan secara simbolis untuk mendukung pembangunan rumah tenun di Kelibara, Ende, yang selanjutnya akan diberi nama Sao Tege Seda Camino Kelibara. Bantuan juga diberikan untuk mendukung revitalisasi Rumah Adat Ata Ngi’i Ngape di Wologeru, Ende, yang setelah proses penataan akan diberi nama Sao Ria Ngi’i Nangape Camino Wologeru.

Yori Antar dikenal sebagai arsitek yang aktif mendorong pelestarian arsitektur tradisional Nusantara melalui gerakan Rumah Asuh. Kiprahnya dalam mendukung pembangunan kembali rumah adat dan pelibatan masyarakat setempat menjadi salah satu rujukan dalam upaya menjaga keberlanjutan warisan arsitektur Indonesia.

Dukungan bagi rumah tenun dan rumah adat tersebut diharapkan dapat memperkuat pelestarian pengetahuan tradisional, keterampilan menenun, serta identitas budaya masyarakat Ende. Lebih dari sekadar pembangunan fisik, inisiatif ini juga menjadi bagian dari upaya menjaga agar warisan budaya tetap hidup dan dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.

Bagi Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF), rangkaian Camino de Flores memperlihatkan potensi pengembangan pariwisata Flores melalui perpaduan wisata religi, alam, sejarah, dan budaya. Perjalanan yang menghubungkan berbagai wilayah dan komunitas ini membuka ruang bagi wisatawan untuk menikmati destinasi sekaligus memahami kehidupan masyarakat yang menjadi bagian penting dari pengalaman berwisata.

“Camino de Flores menunjukkan bahwa perjalanan wisata dapat menjadi ruang untuk membangun kedekatan dengan masyarakat, mengenal warisan budaya, sekaligus menumbuhkan kepedulian terhadap daerah yang dikunjungi. Pengalaman berjalan kaki dan berinteraksi langsung dengan masyarakat di sepanjang rute memberikan nilai tambah yang tidak hanya bersifat rekreatif, tetapi juga spiritual dan sosial,” ujar Andhy MT Marpaung, Plt. Dirut BPOLBF.

Ia menambahkan, BPOLBF berharap pengalaman dan semangat yang dibangun melalui Camino de Flores dapat menjadi inspirasi bagi pengembangan paket perjalanan wisata berbasis minat khusus di Flores, termasuk wisata religi dan perjalanan lintas destinasi yang melibatkan desa wisata, pelaku UMKM, komunitas budaya, serta masyarakat setempat.

Berakhirnya perjalanan Camino de Flores bukan menjadi akhir dari semangat yang dibawanya. Pengalaman kebersamaan, kepedulian terhadap masyarakat, serta dukungan bagi pelestarian budaya diharapkan dapat menjadi pijakan untuk memperkuat pengembangan pariwisata berkelanjutan di Flores, sekaligus mendorong manfaat yang lebih luas bagi masyarakat setempat.


———

Sisilia Lenita Jemana
Kepala Divisi Komunikasi Publik
Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores

thumbnail

Camino de Flores Tutup Perjalanan Ziarah 70 Kilometer, Tinggalkan Jejak Kepedulian bagi Flores

Ende, 27 Oktober 2026 – Rangkaian perjalanan ziarah berjalan kaki Camino de Flores Etape Tengah, yang melintasi wilayah Ngada, Nagekeo, dan Ende, resmi berakhir pada Senin (26/10/...

thumbnail

Hari Ketiga Camino de Flores: Menyusuri Jalur Trans Flores, Merawat Spiritualitas dan Persaudaraan Lintas Iman

Ende, 26 Oktober 2026 – Jejak Camino de Flores hari ketiga, Minggu (25/10/2026) membawa para peserta menyusuri jalur Trans Flores dari Mataloko, Kabupaten Ngada, menuju Nangapanda...

thumbnail

Camino de Flores Etape Tengah Hari Kedua, Perkuat Wisata Religi dan Solidaritas untuk Pemulihan Flores

Ngada, 25 Oktober 2026 — Hari kedua Rangkaian Camino de Flores: The Sacred Journey of Flores – A Spiritual Journey of Reflection and Recovery, Sabtu (24/10), sebanyak 70 peserta C...

Ada pertanyaan ?

Lihat FAQ ? atau Hubungi Kami