Labuan Bajo, 31 Juli 2026 – Pengembangan wisata religi Katolik di Pulau Flores terus menunjukkan kemajuan yang positif. Sejak mulai digencarkan pada 2024, pengembangan wisata minat khusus ini tidak lagi hanya berfokus pada penyelenggaraan berbagai kegiatan religi dan budaya, tetapi mulai diarahkan pada pengembangan produk wisata yang lebih terintegrasi, berkelanjutan, dan mampu memberikan pengalaman spiritual yang lebih mendalam bagi para peziarah maupun wisatawan.

Melihat potensi tersebut, Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF) saat ini sedang menginisiasi pengembangan Camino Flores, sebuah jalur ziarah (pilgrimage trail) yang mengadopsi semangat dan konsep Camino de Santiago de Compostela di Spanyol. Inisiatif ini diharapkan menjadi tonggak baru dalam pengembangan wisata religi Katolik di Pulau Flores dengan menghadirkan pengalaman ziarah yang memadukan nilai-nilai spiritual, kekayaan budaya, dan keindahan alam. Kehadiran Camino Flores diharapkan tidak hanya memperkaya pilihan produk wisata minat khusus, tetapi juga memperkuat posisi Flores sebagai destinasi wisata spiritual yang berkelanjutan dan berdaya saing.
Dilansir dari UNESCO World Heritage Centre, Camino de Santiago de Compostela merupakan salah satu jalur peziarahan Katolik paling terkenal di dunia yang telah berlangsung selama lebih dari seribu tahun dengan tujuan akhir di Katedral Santiago de Compostela, Galicia, Spanyol, tempat yang diyakini sebagai makam Santo Yakobus Rasul. Jalur peziarahan ini diakui UNESCO sebagai Warisan Dunia karena tidak hanya memiliki nilai spiritual, tetapi juga berhasil menggerakkan ekonomi lokal, melestarikan warisan budaya, memperkuat identitas masyarakat, serta menciptakan pemerataan manfaat pariwisata pada wilayah-wilayah yang dilalui.
Konsep pengembangan Camino Flores dinilai sangat relevan untuk dikembangkan di Pulau Flores. Dimana dari sekitar 8,86 juta jumlah umat Katolik atau 3,07% total populasi nasional, sekitar 3 juta jiwa penganut Katolik berada di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), dengan sekitar 2 juta di antaranya bermukim di Pulau Flores. Ini menunjukkan, bahwa Pulau Flores menjadi rumah bagi sekitar 22,6% dari seluruh umat Katolik di Indonesia (Sumber: Disdukcapil Kemendagri, 2025). Besarnya populasi umat Katolik tersebut menjadi modal strategis bagi Flores untuk mengembangkan wisata religi Katolik sekaligus memperkuat posisinya sebagai salah satu destinasi ziarah unggulan di Indonesia.
Potensi tersebut semakin diperkuat oleh sejarah panjang penyebaran agama Katolik di Pulau Flores yang meninggalkan warisan spiritual dan budaya yang kaya. Berbagai gereja bersejarah, gua Maria, biara, seminari, tradisi liturgi yang masih lestari, hingga bentang alam yang memukau menghadirkan pengalaman ziarah yang autentik bagi para peziarah. Perpaduan antara nilai-nilai iman, kekayaan budaya lokal, dan keindahan alam menjadikan Flores memiliki karakter yang khas, sekaligus membedakannya dari destinasi wisata religi lainnya di Indonesia.
BPOLBF sendiri, sejak 2024 lalu telah mendorong penguatan fondasi pengembangan wisata religi Katolik melalui penyusunan Travel Pattern Wisata Religi Katolik Pulau Flores dan melakukan penguatan narasi destinasi, promosi digital, forum bisnis (business meeting), hingga kolaborasi bersama Keuskupan, pemerintah daerah, pelaku industri pariwisata, dan komunitas. Upaya tersebut menjadi modal penting dalam mewujudkan penyelenggaraan Camino Flores sebagai produk wisata unggulan baru di Indonesia.
Berbeda dengan wisata religi yang berorientasi pada kunjungan singkat ke satu destinasi, Camino Flores dirancang sebagai sebuah perjalanan spiritual lintas wilayah yang menghubungkan berbagai situs religi dan sejarah misionaris di Pulau Flores. Selama perjalanan, peziarah tidak hanya mengikuti aktivitas keagamaan, tetapi juga berinteraksi dengan masyarakat lokal, menikmati budaya, kuliner, UMKM, atraksi alam, namun juga diajak untuk terlibat dalam kegiatan sosial pada titik-titik tertentu d sepanjang rute yang dilalui.
Plt. Direktur Utama BPOLBF, Andhy M.T. Marpaung mengatakan bahwa Camino Flores bukan sekadar menghadirkan jalur peziarahan, tetapi membangun sebuah ekosistem pariwisata berbasis spiritualitas, budaya, dan pemberdayaan masyarakat.
”Pulau Flores memiliki modal yang sangat kuat untuk menghadirkan Camino Flores sebagai ikon wisata religi Katolik Indonesia. Kita memiliki situs-situs religi yang tersebar dari barat hingga timur Flores, tradisi iman Katolik yang hidup, budaya lokal yang autentik, serta bentang alam yang menawarkan pengalaman perjalanan yang reflektif. Seluruh potensi tersebut merupakan fondasi yang sangat relevan untuk dikembangkan menjadi sebuah pilgrimage trail berkelas dunia," jelasnya.
Andy juga menginformasikan, bahwa pengembangan Camino Flores sendiri berpeluang dilaksanakan pada tahun ini.
”Camino Flores ini tidak dimaksudkan untuk meniru Camino de Santiago, namun gagasan filosofis dari perjalanan spiritual ini dapat kita adaptasi menyesuaikan dengan karakter, budaya, sejarah, dan identitas Pulau Flores. Kami sendiri saat ini sedang merancang penyelenggaraan Camino de Flores pada tiga Etape, yaitu Etape Barat yang terdiri dari sepanjang Manggarai Barat, Manggarai, dan Manggarai Timur. Lalu Etape Tengah dimulai dari Bajawa, Nagekeo, dan Ende, serta Etape Timur yang terdiri dari rangkaian wilayah Maumere dan Flores Timur. Total jarak tempuh pada masing-masing Etape adalah sepanjang 70 km, yang kami harapkan dapat mendukung penyelenggaraan Camino Flores yang kedepannya dapat disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing peziarah,” jelas Andy.
Pengembangan produk wisata ziarah Camino Flores ini juga sejalan dengan arah pembangunan pariwisata nasional yang menitikberatkan pada kualitas pengalaman wisatawan, keberlanjutan destinasi, serta pemerataan manfaat ekonomi. Camino Flores diharapkan dapat menjadi tonggak baru dalam pengembangan wisata religi di Indonesia sekaligus memperkuat posisi Pulau Flores sebagai destinasi pariwisata yang berkualitas, inklusif, dan berkelanjutan di tingkat global.
-------
Sisilia Lenita Jemana
Kepala Divisi Komunikasi Publik
Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores