Festival Golo Koe 2026 Berikan Dampak Ekonomi, Sosial Budaya, dan Lingkungan

Created at 2026-10-16

Labuan Bajo, 16 Oktober 2026 - Festival Golo Koe 2026 mencatatkan sejumlah capaian yang memberikan manfaat bagi masyarakat dan pengembangan pariwisata Labuan Bajo dan Flores. Hal ini disampaikan dalam rapat pemaparan Laporan Analisis Dampak Penyelenggaraan Festival Golo Koe 2026 yang berlangsung secara daring pada Senin (12/10), dengan melibatkan panitia Festival Golo Koe, Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF), dan Kementerian Pariwisata sebagai inisiator pengumpulan data. 

Analisis yang dilakukan oleh Tim Strategi Event, Deputi Bidang Pengembangan Penyelenggaraan Kegiatan (event), Kementerian Pariwisata RI tersebut mengkaji dampak penyelenggaraan festival dari aspek ekonomi, sosial budaya, dan lingkungan sebagai bahan evaluasi untuk pengembangan event yang lebih berkualitas dan berkelanjutan.

Festival Golo Koe merupakan salah satu agenda dalam Karisma Event Nusantara (KEN) yang mengangkat kekayaan budaya, tradisi, dan religiusitas masyarakat Manggarai sebagai daya tarik pariwisata. Pada penyelenggaraan tahun 2026, festival yang semula direncanakan berlangsung selama enam hari (10-15 Agustus 2026) dilaksanakan selama lima hari. Puncak festival yang dijadwalkan pada 15 Agustus 2026 dibatalkan menyusul terjadinya gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7.

Meski berlangsung dengan penyesuaian tersebut, Festival Golo Koe tetap mencatatkan sejumlah capaian. Berdasarkan hasil analisis, selama lima hari penyelenggaraan festival tercatat sekitar 45.000 pengunjung, dengan 89% di antaranya merupakan penduduk lokal, sedangkan sisanya berasal dari wisatawan nusantara dan wisatawan mancanegara.

Pengunjung tercatat memiliki rata-rata masa tinggal selama 5,62 hari, yang berkontribusi terhadap perputaran ekonomi nasional sebesar Rp22,95 miliar dan perputaran ekonomi Nusa Tenggara Timur sebesar 18,01 miliar. Sementara itu, kontribusi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional tercatat sebesar Rp11,77 miliar dan kontribusi terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Nusa Tenggara Timur (NTT) sebesar Rp9,04 miliar. Sementara hasil survey persepsi multi pihak secara umum menunjukkan pengelolaan dampak ekonomi Festival Golo Koe 2026 berada dalam kategori Sangat Baik, yaitu pada nilai 4,724 dari 5,00.

Capaian ini menunjukkan bahwa festival berbasis budaya memiliki potensi untuk menggerakkan aktivitas ekonomi melalui kunjungan wisatawan dan transaksi pada berbagai sektor pendukung pariwisata. Keterlibatan pelaku usaha lokal dalam rangkaian kegiatan juga menjadi salah satu faktor penting dalam mendorong manfaat ekonomi bagi masyarakat.

Pada aspek sosial budaya, Festival Golo Koe 2026 melibatkan 375 tenaga kerja lokal secara langsung dan 883 pelaku seni budaya. Selain itu, sebanyak 173 unit tenant komersial turut berpartisipasi, yang seluruhnya atau 100 persen merupakan UMKM lokal.

Pelibatan tersebut memperlihatkan peran festival sebagai ruang kolaborasi bagi masyarakat, pelaku seni budaya, dan pelaku usaha lokal. Festival tidak hanya menjadi wadah untuk menampilkan kekayaan tradisi Manggarai kepada pengunjung, tetapi juga membuka peluang ekonomi dan memperkuat partisipasi masyarakat dalam pengembangan pariwisata daerah.

Plt. Direktur Utama BPOLBF, Andhy MT Marpaung, menyampaikan bahwa hasil analisis dampak ini menjadi salah satu bahan penting untuk melihat manfaat penyelenggaraan event secara lebih menyeluruh, sekaligus mengidentifikasi aspek-aspek yang masih perlu ditingkatkan.

“Festival berbasis budaya seperti Festival Golo Koe memiliki potensi besar untuk memberikan manfaat bagi daerah, tidak hanya melalui aktivitas ekonomi dan kunjungan wisatawan, tetapi juga melalui pelestarian budaya serta keterlibatan masyarakat lokal. Karena itu, pengukuran dampak seperti ini penting agar penyelenggaraan event ke depan semakin terarah, memiliki perencanaan yang lebih baik, dan mampu memberikan manfaat yang berkelanjutan bagi masyarakat serta destinasi pariwisata Labuan Bajo dan Flores,” ujar Andhy.

Dari aspek lingkungan, pengukuran emisi karbon Festival Golo Koe 2026 dilakukan melalui kolaborasi Jejakin, Kementerian Pariwisata, BPOLBF, dan panitia festival. Jejakin merupakan perusahaan teknologi iklim (climate-tech) yang menyediakan solusi untuk pengukuran emisi karbon serta pemantauan dampak aksi lingkungan, termasuk penanaman dan pemantauan pohon.

Berdasarkan hasil asesmen, total emisi yang dihasilkan selama penyelenggaraan Festival Golo Koe 2026 tercatat sebesar 26.536,70 kgCO₂e. Sebagai bagian dari upaya mitigasi dampak lingkungan, dilakukan penanaman berbagai jenis pohon dan mangrove selama rangkaian kegiatan festival.

Secara keseluruhan, sebanyak 603 pohon telah ditanam dengan estimasi total stok karbon sebesar 58.926,65 kgCO₂e. Berdasarkan perhitungan dalam asesmen, nilai tersebut melampaui total emisi festival, dengan estimasi surplus sebesar 32.389,95 kgCO₂e selama masa hidup (lifespan) delapan tahun.

Hasil ini menjadi indikasi positif dari upaya mitigasi dampak lingkungan dalam penyelenggaraan festival. Meski demikian, pengelolaan lingkungan tidak hanya berkaitan dengan pengimbangan emisi karbon, tetapi juga mencakup pengelolaan sampah, pengurangan penggunaan material sekali pakai, serta peningkatan kesadaran seluruh pihak yang terlibat dalam kegiatan.

Ketua Panitia Festival Golo Koe, Romo Ivan Selman, menyampaikan bahwa hasil analisis dampak tersebut akan menjadi catatan dan bahan evaluasi bagi panitia dalam mempersiapkan penyelenggaraan Festival Golo Koe pada tahun-tahun mendatang, terutama dalam memperkuat pengelolaan sampah selama rangkaian kegiatan.

“Laporan ini menjadi catatan penting bagi kami sebagai panitia untuk mengevaluasi penyelenggaraan Festival Golo Koe ke depan. Selain mempertahankan hal-hal yang sudah berjalan baik, kami juga perlu memperbaiki sejumlah aspek, terutama pengelolaan sampah. Kami berharap pada penyelenggaraan berikutnya, pengelolaan sampah dapat direncanakan dengan lebih baik melalui keterlibatan seluruh pihak, mulai dari panitia, tenant, peserta, hingga pengunjung, sehingga festival ini tidak hanya memberikan dampak positif bagi masyarakat dan perekonomian, tetapi juga semakin bertanggung jawab terhadap lingkungan,” ungkap Romo Ivan.

Hasil analisis dampak Festival Golo Koe 2026 menjadi gambaran penting mengenai potensi event budaya dalam mendukung pengembangan pariwisata yang inklusif dan berkelanjutan. Dampak ekonomi yang tercatat, tingginya keterlibatan pelaku seni budaya dan UMKM lokal, serta upaya pengukuran emisi dan penanaman pohon menunjukkan bahwa penyelenggaraan event dapat memberikan manfaat yang melampaui kegiatan itu sendiri.

Ke depan, sinergi antara pemerintah, penyelenggara, komunitas budaya, pelaku usaha, dan masyarakat diharapkan semakin memperkuat kualitas penyelenggaraan Festival Golo Koe. Evaluasi berbasis data juga diharapkan dapat mendorong perbaikan berkelanjutan, khususnya dalam pengelolaan sampah dan lingkungan, sehingga Festival Golo Koe dapat terus berkembang sebagai salah satu daya tarik budaya yang memperkuat identitas Manggarai serta pariwisata Labuan Bajo dan Flores.


——-
Sisilia Lenita Jemana
Kepala Divisi Komunikasi Publik
Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores

thumbnail

Soft Opening Mawatu Labuan Bajo, Hadirkan Ruang Baru bagi Pengembangan Pariwisata

Labuan Bajo, 16 Oktober 2026 – BPOLBF (Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores) turut hadir dalam Soft Opening Mawatu Labuan Bajo pada Jumat (16/10/2026) pagi. Acara ini dihadi...

thumbnail

Kemenpar dan BPOLBF Perkuat Pemasaran Produk Wisata Daratan Flores Melalui Famtrip dan Business Meeting

Labuan Bajo, 16 Oktober 2026 – Kementerian Pariwisata melalui Asisten Deputi Pemasaran Pariwisata Nusantara, Deputi Bidang Pemasaran, bersama Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Fl...

thumbnail

Festival Golo Koe 2026 Berikan Dampak Ekonomi, Sosial Budaya, dan Lingkungan

Labuan Bajo, 16 Oktober 2026 - Festival Golo Koe 2026 mencatatkan sejumlah capaian yang memberikan manfaat bagi masyarakat dan pengembangan pariwisata Labuan Bajo dan Flores. Hal i...

Ada pertanyaan ?

Lihat FAQ ? atau Hubungi Kami